IDnesia – Pemerintah Indonesia mengajak Rusia memperluas hubungan ekonomi dari perdagangan menjadi kemitraan investasi berbasis hilirisasi. Melalui sejumlah sektor strategis, Indonesia menawarkan peluang kerja sama industri bernilai tambah sebagai bagian dari upaya memperkuat daya saing nasional menuju target ekonomi 2045.
Ringkasnya:
- Indonesia mengajak Rusia memperluas kerja sama investasi di sektor mineral, manufaktur, energi, hingga perkapalan.
- Enam kerja sama ditandatangani pada ajang Innaprom 2026 di Ekaterinburg, Rusia.
- Pemerintah mendorong investasi dua arah sekaligus memperkuat dukungan pembiayaan dan transaksi perdagangan.
Indonesia Dorong Hubungan Ekonomi Berbasis Investasi
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan pemerintah ingin membangun hubungan ekonomi Indonesia-Rusia yang lebih kuat melalui investasi dan pengembangan industri, bukan hanya perdagangan.
Menurutnya, Indonesia ingin menjadi bagian dari rantai produksi global dengan menghadirkan kemitraan yang saling menguntungkan.
“Indonesia bukan negara yang hanya mengandalkan komoditas dan mencari pembeli. Indonesia adalah negara industri yang mencari mitra.”
Pernyataan tersebut disampaikan dalam dialog di sela pameran industri internasional Innaprom 2026 di Ekaterinburg, Rusia.
Enam Kerja Sama Ditandatangani di Innaprom 2026
Keikutsertaan Indonesia dalam pameran tersebut menghasilkan enam penandatanganan kerja sama. Beberapa di antaranya merupakan tindak lanjut dari kesepakatan yang telah dicapai pada Desember 2025.
Agus menegaskan keberhasilan kerja sama akan diukur dari implementasinya, seperti pembangunan smelter, pembentukan usaha patungan, hingga meningkatnya arus perdagangan antara kedua negara.
Hilirisasi Jadi Daya Tarik Investasi Rusia
Pemerintah menawarkan peluang investasi pada sektor hilirisasi sumber daya alam, terutama pengembangan industri baterai kendaraan listrik.
Indonesia memiliki cadangan nikel, bauksit, timah, dan tembaga yang menjadi modal penting dalam membangun industri pengolahan di dalam negeri.
Selain mineral, pemerintah juga membuka peluang kerja sama di sektor otomotif, elektronik, mesin, energi, petrokimia, dan galangan kapal melalui skema usaha patungan di kawasan industri.
Perdagangan Bilateral Terus Menguat
Menurut Agus, nilai perdagangan Indonesia-Rusia pada 2025 mencapai 4,8 miliar dolar AS, meningkat 5,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, ekspor Indonesia ke Rusia tumbuh 7,5 persen menjadi 1,8 miliar dolar AS.
Indonesia mengekspor berbagai produk manufaktur dan komoditas seperti karet, kopi, alas kaki, elektronik, serta bahan kimia. Sebaliknya, Rusia memasok pupuk, baja, serealia, hingga produk dirgantara.
Pemerintah Dorong Investasi Dua Arah
Pemerintah juga mendorong perusahaan Indonesia berinvestasi di Rusia, terutama pada sektor makanan halal, kosmetik, dan farmasi.
Sebaliknya, Indonesia menawarkan akses menuju pasar ASEAN bagi investor Rusia.
Untuk mendukung perdagangan dan investasi, pemerintah memperkuat peran Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), sekaligus mendorong penggunaan mata uang lokal dan mekanisme pembayaran BRICS.
Di sisi lain, Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rusia Anton Alikhanov menyatakan kedua negara mempertahankan dialog yang konstruktif di berbagai tingkatan.
Perdana Menteri Rusia Mikhail Mishustin juga menyampaikan komitmen untuk memperdalam hubungan bilateral dan memperluas kerja sama di berbagai sektor.











