Idnesia.id – Kasus dugaan mark up pembuatan video profil desa di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang menjerat videografer Amsal Christy Sitepu membuat seorang Analis yang juga pembuat konten terkenal, Ferry Irwandi geram.
Dalam video Docuvlog miliknya yang tayang di akun Youtube Ferry Irwandi belum lama ini, ia menungkapkan rasa kesal dan geramnya atas kasus yang bergulir.
Meskipun kini Amsal Sitepu sudah bebas murni, namun kritik Ferry Irwandi ini tampaknya tidak menyasar pada putusan pengadilan atau hakim, tetapi soal kejanggalan yang nyata.
“Dari berbagai kasus yang pernah saya pelajari dan bahas, saya bilang ini adalah kasus yang paling konyol, paling aneh, paling absurd, dan paling memalukan,” ungkap Ferry dalam video Docuvlog yang tayang dua hari lalu.
Kata Ferry, dasar pengenaan terhadap Amsal yakni audit dari Inspektorat Pemkab Karo menurutnya memalukan dan asal-asalan. Iapun membaginya dengan tiga kata kunci utama kasus ini, yaitu videografi, akuntansi dan pengadaan.
“Mungkin anda akan marah, kesal dan mual melihat semua fakta yang terjadi. Karena videonya sudah jadi, desanya puas, produknya diserahkan. Apakah harga Rp30 Juta ini kemahalan untuk satu video profil? Jawabannya tidak,” tegas Ferry.
Menghitung dengan matrix apapun kata Ferry, bahkan siapapun tak perlu menjadi sarjana atau ahli untuk bisa mengategorikan berapa bodohnya kejanggalan tersebut. Durasi 40 menit, kualitas bagus, memuaskan dan tergolong sangat murah jika dibandingkan dengan video profil di beberapa daerah.
“Silakan lihat sendiri videonya. Itu berdasarkan teknis dan substansinya. Kalaupun mau dikomparasi (bandingkan) tetap aja itu bukan cuma wajar, tetapi kemurahan. Kalau saya dibayar Rp30 Juta pasti menolak. Karena desa itu dapat keuntungan besar dengan kualitas video seperti itu,” jelasnya.
Berikutnya Ferry juga melihat bahwa dugaan kerugian negara Rp24,1 Juta untuk satu video (profil desa) dengan jumlah 20 desa di Karo, tidak dibuktikan dengan mekanisme transaksi, aliran dana, dan beberapa hal lain.
“Angka Rp24,1 Juta ini didapatkan dengan menggratiskan atau menolkan biaya editing, mikrofon, cutting dan ide. Padahal itu jelas biayanya ada.
Dan yang lebih konyol lagi, kasus ini nggak berangkat dari temuan audit tahunan, dari laporan realisasi anggaran. Yang selama ini baik-baik saja bertahun-tahun. Tahu-tahu diangkat jadi kasus, dan diminta dilakukan audit, barulah ketemu angka-angka konyol tadi,” katanya lagi.
Hingga berbagai kejanggalan yang sempat membuat Ferry hampir tidak bisa mengucapkan kata yang bisa mewakili kegeramannya itu. Bahkan jarang sekali kata seperti konyol, bodoh, dan aneh keluar dari ucapan Ferry di banyak videonya.
“Ini bukan cuma soal kebebasan Amsal saja, tetapi harus diperiksa juga dan ditelusuri lagi di balik kasus ini kenapa bisa diangkat? Kenapa dokumen dakwaannya bisa seperti ini, kenapa hasil auditnya bisa seperti ini?” katanya. (*)










